Inovasi di Tengah Pandemi

Urgensi Ideologi Inovasi di Tengah Pandemi

Tepat pada minggu tengah bulan Juni 2020, para pekerja di Indonesia rata-rata sudah masuk kembali dengan protokol kesehatan cuci tangan, pakai masker, dan jaga jarak. Ketiga protokol ini dibarengi oleh adanya jadwal shift bagi para pekerja di dalam instansinya.

Adanya protokol secara sistem dan SDM ini membuat kita bertanya-tanya tentang bentuk dari hal-hal, utamanya soal perdebatan apakah ini bentuk dari penyesuaian atau bagian dari inovasi kebijakan? Jika kita berbicara mengenai penyesuaian maka ada nilai tambah yang diberikan kepada suatu hal sementara jika kita merujuk kepada inovasi kebijakan maka terdapat perubahan cukup radikal di dalam melakukan suatu hal.

Ideologi inovasi dijelaskan oleh Holt dan Cameron (2010) sebagai pemberian brand kepada sebuah kultur kepada sebuah tatanan masyarakat. Ide dari ideologi inovasi adalah menanamkan kebiasaan berpikir otomatis kepada seseorang agar memiliki gerakan untuk melakukan nilai tambah setiap harinya.

Bagaimana orang melakukan inovasi setiap harinya di dalam perilaku mereka juga didorong oleh apa yang disebut sebagai nudging policy.

Thaler dan Sunstein (2008) menjelaskan bahwa nudging policy sebagai kebijakan dorongan melalui eksperimen agar orang memiliki perilaku lebih rasional karena manusia sering membuat keputusan tidak rasional. Nudging policy bisa berbentuk eksperimen yang kemudian diabstraksikan di dalam regulasi (Kemmerer, Möllers, Steinbeis, dan Wagner, 2016).

Sedangkan, penyesuaian kebijakan dimaknai sebagai bagian dari evaluasi kebijakan publik yang bersumber kepada bagaimana kebijakan merespon perubahan sosial, ekonomi, dan politik (Nagel, 2002).

Lebih lanjut, penyesuaian kebijakan juga merespon perubahan-perubahan tersebut di dalam desain kebijakan, apakah akan melakukan upgrade terhadap apa yang telah dilakukan atau merubah total kebijakan yang telah dilakukan (Bizikova, Swanson, Tyler, Roy, dan Venema, 2018). Di dalam teorisasi kebijakan publik hal ini dilakukan ketika kebijakan berjalan di tengah-tengah dan tidak berdampak kepada perubahan ekonomi, sosial, dan politik.

Dari penjabaran di atas terlihat bahwa ideologi inovasi kebijakan berbicara mengenai perubahan berkelanjutan, baik respon terhadap dampak kebijakan ataupun tidak. Sementara, penyesuaian kebijakan dilakukan ketika kondisi internal dan eksternal menuntut untuk berubah.

Kondisi internal dan eksternal ini bisa dimaknai sebagai tuntutan masyarakat akan perubahan dan respon atas kondisi sosial-ekonomi. Dari kondisi-kondisi demikian, penyesuaian kebijakan dilakukan.

Deskripsi-deskripsi di atas membuat kebijakan protokol kesehatan bagi SDM yang sudah mulai bekerja di tengah pandemi dimaknai sebagai penyesuaian kebijakan. Karena jika ditilik dari instrumentasi kebijakannya, maka protokol kesehatan bagi SDM yang bekerja hanyalah upgrade dari PSBB.

Dengan kata lain, New Normal tidak mengubah banyak hal, kecuali adanya pembatasan sosial yang berskala masif dan diberlakukan tidak hanya kepada orang yang keluar namun juga orang yang tidak keluar atau kerja di kantor.

Tentunya ini disayangkan mengingat sebenarnya New Normal dimaknai sebagai perubahan mindset untuk terus beradaptasi dan berubah, yang ditulis di dalam prinsip-prinsip ideologi inovasi. Lalu, apakah penyesuaian kebijakan ini ada arah kesana?

Melihat angka infeksi yang justru menjadi 1000-an setiap harinya pasca New Normal membuat ideologi inovasi sepertinya belum nampak. Tentunya ini disayangkan karena memang New Normal mengarah kepada ideologi inovasi yang memang harus ada perubahan total perilaku manusia bahkan mungkin setelah pandemi berakhir.

Bisa jadi jaga jarak akan menjadi kebiasaan baru bagi seluruh manusia tidak hanya di Indonesia namun juga di dunia. Sehingga, New Normal bukanlah adaptasi namun sebuah ideologi inovasi yang harus ditanamkan kepada para pembuat kebijakan dan masyarakat.

Kebutuhan akan ideologi inovasi ini mungkin tidak hanya dibutuhkan bagi pembuat kebijakan dan penerima namun juga bagi para administrator yang juga terkena dampaknya. Rosenbloom (2016) menjelaskan bahwa inovasi kebijakan juga berdampak kepada bagaimana inovasi administrasi dilakukan sebab kebijakan publik juga berbicara mengenai akuntabilitas kebijakan. Sehingga, kebijakan publik tidak hanya berdampak namun juga dapat dipertanggung jawabkan.

Sudah tentu kita berharap bahwa para pembuat kebijakan tidak hanya memandang New Normal sebagai bentuk penyesuaian kebijakan namun juga ideologi. Penggunaan basis perilaku dan eksperimen dalam nudging perlu dikedepankan agar kita dapat menjadi SDM yang tangguh akan perubahan.

Hal ini seakan meneruskan Disruption dimana perubahan itu keniscayaan dan harus menjadi mental kita sebagai manusia sehingga terus mampu menghasilkan solusi berkelanjutan (Christensen, 1997; Christensen dan Raynor, 2003). Hal ini tidak mustahil mengingat gaung inovasi terus disuarakan oleh para pembuat kebijakan kita di level pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Referensi

  • Bizikova, L., Swanson, D., Tyler, S., Roy, D., & Venema, H. D. (2018). Policy adaptability in practice: lesson learned in the application of the Adaptive Design and Assessment Policy Tool (ADAPTool) to examine public policies in Canada in the context of climate change. Policy Design and Practice, 1(1), 47–62. https://doi.org/10.1080/25741292.2018.1436376.
  • Christensen, C. (1997). The Innovator’s Dilemma. Harvard Business School Press. Boston.
  • Christensen, C., & Raynor, M. (2003). The Innovator’s Solution: Creating and Sustaining Successful Growth. Harvard Business School Publishing. https://doi.org/10.5465/ame.2004.12689164.
  • Holt, D., & Cameron, D. (2010). Cultural Strategy using innovative ideologies to build breakthrough brands. Oxford University Press (Vol. 1). Oxford. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004
  • Kemmerer, A., Möllers, C., Steinbeis, M., & Wagner, G. (2016). Choice Architecture in Democracies: Exploring the Legitimacy of Nudging. Choice Architecture in Democracies. https://doi.org/10.5771/9783845263939-1.
  • Nagel, S. (2002). Handbook of Public Policy Evaluation (Vol. 3). New Delhi. Retrieved from http://repositorio.unan.edu.ni/2986/1/5624.pdf.
  • Rosenbloom, D. (2016). Adaptive Administration. New York: Taylor and Francis Group.
  • Thaler, R., & Sunstein, C. (2008). Nudge (Vol. 3). USA: Caravan. Retrieved from http://repositorio.unan.edu.ni/2986/1/5624.pdf.
Satria Aji Imawan
Latest posts by Satria Aji Imawan (see all)
More Stories
Bersepeda Itu Mengowes Perubahan
Bersepeda Itu Mengowes Perubahan