Politik Milenial
https://www.pexels.com/id-id/@nietjuh

Posisi Milenial Dalam Politik Indonesia

“Politik itu hanya untuk kaum elitis, kita hanya menjadi komoditas saja”. Kiranya kalimat itu mampu mewakili sedikit banyak perasaan banyak orang saat ini. Banyak juga kalangan muda yang sudah apatis terhadap politik. Mereka lebih memilih penyelesaian masalah kehidupannya dibandingkan memikirkan politik ataupun kebijakan pemerintah karena merasa suara mereka tidak mungkin didengarkan.

Di era milenial saat ini, generasi milenial sudah pasti akan menjadi target pasar bagi politisi untuk mendapatkan suara. Kita bisa saja melihat posisi milenial sebagai komoditas, namun jika dilihat melalui perspektif lain milenial justru menjadi sebuah komponen penting bagi politik di era saat ini. Posisinya sebagai pasar utama bagi politisi. Hal tersebut semestinya memberi generasi milenial bargaining power yang tinggi dalam perpolitikan saat ini. 

Masih segar di ingatan kita bagaimana Mahathir Mohamad (Perdana menteri Malaysia) akhirnya secara mengejutkan berhasil mengalahkan rezim yang dipimpin oleh Najib Razak, yang dinilai korup. Keberhasilan Mahathir ini tidak terlepas dari peran anak muda Malaysia yang sudah jengah dengan kepemimpinan dari Najib pada waktu itu.

Sedari dulu pemuda atau generasi muda yang saat ini dikenal sebagai milenials, selalu punya energi berlebih untuk melakukan perubahan. Indonesia pun punya kisahnya sendiri yaitu demo 98 yang mengubah tata kelola kekuasaan pada waktu itu. Menengok sejarah negeri sendiri dan sejarah bangsa selain kiranya kata komoditas itu hanyalah sebuah pilihan.

Menjadi komoditas atau tidak itu tergantung dari sikap kaum muda dalam memandang posisinya. Peduli akan politik tidak harus aktif dalam perpolitikkan praktis. Memiliki kepercayaan bahwa sikap politik atau hak politik yang dimiliki merupakan sesuatu yang dapat mengubah sebuah keadaan merupakan sebuah bentuk kepedulian juga.

Konversi Kepedulian politik menjadi Partisipasi politik.

Ketika kepedulian politik sudah muncul, maka langkah selanjutnya adalah mengonversi kepedulian itu ke dalam sebuah tindakan yang nyata. Salah satu tindakan yang paling sederhana adalah ketika seseorang dengan suka rela menggunakan hak suara dalam pemilu, baik pemilu kepala daerah maupun pemilu presiden dan legislatif.

Pengkorverisan kepedulian menjadi partisipasi merupakan hal yang sulit jika para elit politik, maupun organisasi politik tidak dapat menyentuh para generasi milenial ini melalui visi misinya. Mungkin hanya ada sedikit dari banyak palaku politik yang berhasil melakukannya. Maka diperlukan sebuah perubahan besar dari sisi penyampaian pesan politik para pelaku politik untuk dapat melakukan konversi tersebut.

Tentu saja melakukan konversi ini bukanlah hal yang mudah. Generasi milenilal sebagian besar dinilai sudah memiliki kepedulian terhadap perpolitikkan, namun enggan untuk berpartisipasi. Hal ini lah yang menjadi “Pekerjaan Rumah” Anda jika Anda masuk ke dalam bursa pemilu di masa depan.

Generasi milenal bukan sekedar komoditas, generasi milenial adalah pasar potensial yang mampu memberi legitimasi apakah Anda adalah calon yang kredibel atau tidak, patut dipilih atau tidak. Generasi milenial saat ini adalah basis utama yang harus diyakinkan ketika seseorang memiliki keyakinan untuk memperbaiki sebuah kondisi di masyarakat melalui jabatan politik.

Ramai Dibaca Nih
Metode Mengatur Keuangan Budget Jar OP
Metode Mengatur Keuangan Budget Jar