Pariwisata Indonesia

Pandemi: Momen Introspeksi Pariwisata Indonesia

Salah satu sektor penyumbang devisa negara yang ambyar karena penyebaran virus corona adalah pariwisata. MENPAREKRAF, Wishnutama, memperkirakan sektor ini akan kehilangan setengah dari pemasukannya tahun lalu yang berkisar US$ 20 miliar. Target wisatawan yang dicanangkan pada tahun ini bahkan hanya berkisar pada angka 5 juta wisatawan. Angka ini jauh dari target tahun lalu yang mencapai angka 16 juta wisatawan.[i]

Jumlah kunjungan wisatawan yang menurun juga dibersamai dengan kerugian bisnis perhotelan dan restoran. Ketua umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Sukamdani, menunjukkan kerugian ini mencapai angka sebesar US$ 1,5 miliar.

Di tengah kondisi yang demikian, jubir KEMENPAREKRAF juga menyampaikan terjadinya PHK sebanyak 30.421 tenaga kerja wisata terkena PHK, dan 6.724 tenaga kerja wisata dirumahkan sementara.[ii] Berbagai persoalan tersebut menjadi pukulan telak bagi sektor pariwisata di Indonesia.

Menyadari kerentanan

Sebelum covid19 menyebar di Indonesia, sektor pariwisata telah menunjukkan prospek yang cerah. Dalam rentang tahun 2014 hingga 2018, penambahan devisa mengalami lonjakan dua kali lipat dari kisaran angka US$ 11 miliar mencapai US$ 19,29 miliar, dan pada 2019 menyentuh angka US$ 20 miliar.[iii]

Tren meningkat ini juga distimulus dengan investasi yang difokuskan untuk membangun sektor pariwisata di Indonesia. Bahkan, pemerintah telah merencanakan besaran investasi sebesar 500 triliun rupiah untuk sektor pariwisata dalam jangka waktu 2019-2024.

Berbagai usaha pemerintah dan stakeholderslainnya dalam sektor pariwisata juga telah membuahkan hasil dengan  catatan World Travel Tourism Council (WTTC) yang menobatkan Indonesia sebagai negara dengan perkembangan pariwisata berkelanjutan nomor wahid di kawasan Asia Tenggara, ketiga di Asia, dan menduduki 10 besar bersama negara-negara di seluruh dunia dengan tingkat pertumbuhan sektor pariwisata yang masif.[iv]

Terdapat beberapa hal penting yang menjadi catatan penulis dalam perkembangan pariwisata di Indonesia. Perlu diketahui roadmap investasi pariwisata di Indonesia dalam periode 2019-2024 bertujuan untuk membangun 120.000 kamar hotel, 15.000 restoran, 100 taman rekreasi, 100 operator selam, 100 marina, 100 kawasan ekonomi khusus (KEK), 100.000 homestay dengan melibatkan banyak stakeholders.[v]

Berbagai pembangunan ini menandakan bahwa garis besar pertumbuhan sektor pariwisata di Indonesia bertumpu pada proses mobilitas wisatawan (mobility) dan proses bertemunya wisatawan dengan komunitas lokal untuk membantu perputaran uang, pengenalan budaya baru, yang melibatkan banyak pihak di tingkat grassroot (encounter) sehingga pariwisata dapat memberikan dampak pada kehidupan sosial-ekonomi masyarakat lokal.

Dua hal ini baik aspek encounter dan mobility telah menjadi konsep vital yang dibahas dalam berbagai studi tentang pariwisata sejak tahun 1980an.[vi] Akan tetapi, terjadinya pandemi memperlihatkan bahwa pengembangan pariwisata berkelanjutan membutuhkan lebih dari itu, yaitu sebuah konsep ketahanan (resilience).

Hal ini yang membuat sektor pariwisata menjadi rentan dan tidak siap menghadapi berbagai kemungkinan terburuk seperti masa pandemi saat ini. Bagi peneliti seperti Ulrich Beck (2013), konsep ketahanan mencakup dua hal penting, yaitu kemampuan adaptasi dan mitigasi terhadap risiko yang berpotensi terjadi.[vii]

Pembacaan risiko yang cermat akan membuat sektor pariwisata sigap dan mampu beradaptasi terhadap sebuah krisis. Karena itu, sinergitas antar aktor baik negara, pasar, maupun komunitas lokal dalam kerangka governance perlu ditata kembali agar dapat memasukkan konsep ketahanan dalam rencana strategis pariwisata Indonesia pasca pandemi.

Belajar dari tetangga

Jika berkaca dari kemampuan adaptif dan mitigasi risiko negara-negara terdampak covid19 yang mengandalkan pariwisata, Singapura menjadi contoh yang ideal. Singapura sendiri mengalami penurunan wisatawan sebanyak 20 ribu per hari sejak covid19 menyebar.

Karenanya melalui STB (Singapore Tourism Board) dan tim yang dibentuk, sektor pariwisata Singapura beradaptasi dengan situasi krisis dengan dual hal. Pertama adalah keterbukaan informasi terhadap wisatawan yang berisi himbauan dan analisis data terkait penyebaran covid19 di Singapura secara periodik.

Kedua adalah alokasi anggaran sebesar S$ 300 miliar untuk sektor pariwisata, termasuk bantuan terhadap usaha pariwisata dana pekerja terdampak selama sembilan bulan.[viii] Dua kebijakan ini ditempuh segera setelah covid19 menyebar di Singapura.

Berbeda dengan Singapura, pemerintah pusat hingga 16 April 2020 bahkan belum memberikan bantuan secara langsung kepada stakeholders pariwisata yang terdampak covid19.[ix] Bantuan kepada pihak terdampak hanya dilakukan sendiri oleh pemerintah daerah seperti yang dilakukan di Bali tanpa bantuan pemerintah pusat.[x]

Hal ini sekali lagi menandakan kealpaan aspek resilience dalam perencanaan pariwisata Indonesia. Karenanya, kesigapan dan kemampuan adaptasi STB dalam merespons krisis covid19 menjadi patut dijadikan percontohan bagi proses perbaikan sektor pariwisata Indonesia.

Dengan adanya koordinasi yang searah melalui KEMENPAREKRAF, rencana investasi sebesar 500 miliar rupiah yang selama ini berkutat pada pengelolaan amenitas dengan titik sentral pada pembangunan fasilitas fisik harus segera diatur kembali.

Selain itu, pengembangan sektor pariwisata harus meletakkan informasi dan data sebagai elemen fundamental dalam memitigasi risiko yang dapat menimpa Indonesia sewaktu-waktu terjadi. Dengan tidak melepaskan diri dari kerangka governance, kedua hal ini baik keterbukaan informasi dan realokasi anggaran dapat menjadi modal awal untuk membangun sebuah model ketahanan jangka panjang dalam pengelolaan sektor pariwisata di Indonesia.

Introspeksi diri

Presiden Jokowi menyampaikan optimismenya akan booming pariwisata setelah pandemi mereda.[xi] Walaupun terdapat banyak prediksi tentang akhir pandemi, namun sektor pariwisata juga harus segera berbenah diri menghadapi potensi booming pariwisata pasca pandemi.

Masa-masa pandemi dapat  menjadi kesempatan untuk berintrospeksi diri, berefleksi, dan memperbaiki pertumbuhan sektor pariwisata yang anjlok di tahun 2020.

Melalui perbaikan rencana pengembangan pariwisata yang memasukkan konsep resilience, maka bukan hal mustahil bagi Indonesia untuk mencatatkan kembali namanya sebagai destinasi wisata dunia yang adaptif dan responsif dalam menghadapi ancaman krisis di masa depan. Karenanya tak perlu meratap terlalu lama, kerja nyata KEMENPAREKRAF sebagai pembuat kebijakantelah ditunggu oleh tiap insan pariwisata.


[i] “Efek Dahsyat Virus Corona ke Wisata RI per 17 April 2020,” diakses 18 April 2020, https://travel.detik.com/travel-news/d-4928546/efek-dahsyat-virus-corona-ke-wisata-ri-per-17-april-2020.
[ii] “Virus Corona Mewabah, Pariwisata Indonesia Berpotensi Rugi Rp 21 T – DW Tempo.co,” diakses 18 April 2020, https://www.tempo.co/dw/2132/virus-corona-mewabah-pariwisata-indonesia-berpotensi-rugi-rp-21-t.
[iii] Grahanusa Mediatama, “Kemenpar targetkan sektor pariwisata sumbang devisa US$ 20 miliar,” kontan.co.id, 17 Oktober 2019, http://nasional.kontan.co.id/news/kemenpar-targetkan-sektor-pariwisata-sumbang-devisa-us-20-miliar.
[iv] Okezone, “Investasi di Sektor Pariwisata Tembus USD2,5 Miliar : Okezone Economy,” https://economy.okezone.com/, 23 Desember 2018, https://economy.okezone.com/read/2018/12/23/320/1995006/investasi-di-sektor-pariwisata-tembus-usd2-5-miliar.
[v] Okezone.
[vi] Victor T King, “Encounters and Mobilities: Conceptual Issues in Tourism Studies in Southeast Asia,” Journal of Social Issues in Southeast Asia 30, no. 2 (30 Juli 2015): 497–527, https://doi.org/10.1355/sj30-2f.
[vii] Ulrich Beck, World at Risk (John Wiley & Sons, 2013).
[viii] “Supporting Stakeholders through COVID-19 and Planning for Recovery in Singapore,” City Nation Place, diakses 18 April 2020, https://www.citynationplace.com/stakeholders-citizens-covid-19-crisis-singapore.
[ix] “Jokowi Ingin Pekerja Sektor Pariwisata Diberi Bansos Corona,” diakses 18 April 2020, https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200416104010-532-494066/jokowi-ingin-pekerja-sektor-pariwisata-diberi-bansos-corona.
[x] Rini Kustiani, “Pandemi Covid-19, Pekerja Pariwisata Di Bali Dapat Paket Sembako,” Tempo, 17 April 2020, https://travel.tempo.co/read/1332739/pandemi-covid-19-pekerja-pariwisata-di-bali-dapat-paket-sembako.
[xi] “Jokowi: Saya Yakin Tahun Depan Pariwisata Booming,” diakses 18 April 2020, https://nasional.kompas.com/read/2020/04/16/11295601/jokowi-saya-yakin-tahun-depan-pariwisata-booming.

Ramai Dibaca Nih
Meningkatkan Kualitas Komunikasi Suami Istri
Meningkatkan Kualitas Komunikasi Suami Istri