Problem Psikologis

Pandemi Menjadi Problem Psikologis

Genap sudah 3 (tiga) bulan kita hidup berdampingan dengan pandemi COVID-19. Berbagai upaya dilakukan, meskipun pada akhirnya kasus penambahan kasus masih saja terjadi, termasuk dengan korban yang meninggal dunia. Jika mengibaratkan perang, maka COVID-19 sejauh ini telah sukses menjatuhkan mental lawan perangnya.

Bagaimana tidak, selama hampir setengah tahun dimulai dari November 2019 ketika sejak pertama kasus ditemukan, COVID-19 tidak mampu ditangani secara medis. Tidak ada bedanya antara dirawat di rumah sakit atau rawat jalan ketika terkena COVID-19 karena memang obatnya belum ada.

Ketiadaan obat ini menjadi masuk akal ketika pemerintah Indonesia tidak hanya berfokus kepada kesehatan namun juga ekonomi. Jika menganalogikannya lagi dengan perang, maka tidak ada pilihan lagi bagi sebuah pasukan perang selain menggunakan sumber daya yang ada untuk berperang.

Dalam kasus COVID-19, tidak ada cara lain bagi pemerintah selain melakukan penyelamatan ekonomi, karena memang persenjataan untuk melawan tidak ada. Namun hal ini menjadi pedang bermata dua, karena sejatinya COVID-19 adalah masalah kesehatan.

Ketika yang difokuskan selamat adalah ekonomi, maka problem menjadi dua, yaitu kesehatan dan ekonomi. Kedua problem yang tidak disangka membawa umat manusia kepada problem psikologis. Mengapa?

Doran dan Kinchin (2017) menjelaskan bahwa persoalan psikologis ditandai oleh beberapa hal, diantaranya adalah kehilangan semangat berkompetisi, melakukan segala cara untuk mendapatkan pekerjaan, dan mendambakan kehidupan yang layak.

Beberapa faktor tersebut dapat kita temui sekarang ketika pandemi. Pertama, banyak orang kehilangan pekerjaan. Data Kemenaker dan BPJS (2020) mencatat terdapat 2,8 juta pekerja yang terkena dampak dan terpaksa dirumahkan (Jayani, 2020). Kedua, banyak pekerja yang dirumahkan mendaftar seleksi kartu prakerja yang sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 36 Tahun 2020 tentang Pengembangan Kompetensi Kerja Melalui Program Kartu Prakerja (Perpres, 2020).

Contoh adanya ketidakinginan mencari kerja setelah kehilangan pekerjaan adalah indikasi hilangnya spirit kompetisi, penggunaan segala cara, dan dambaan hidup enak di tengah pandemi.

Kondisi inilah yang mewarnai hari-hari kita di tengah pandemi, yang bahkan keinginan kompetisi, penggunaan segala cara untuk mendapat pekerjaan, dan dambaan hidup enak mulai bergeser kepada hal-hal yang tidak produktif. Banyaknya tantangan debat, adanya dugaan teori konspirasi, dan banyaknya pihak-pihak mencari keuntungan di tengah pandemi adalah contoh nyata transformasinya manusia dari makhluk sosial menjadi makhluk individual.

Kondisi ini sungguh memprihatinkan karena melibatkan public figure terkemuka yang seharusnya menjadi teladan bagi masyarakat dan mengarahkan semangat kompetisi ke hal yang benar. Hal ini menjadikan kita bertanya-tanya tentang apakah hal ini tidak diantisipasi?

WHO (2020) telah mempublikasikan laporan bahwa COVID-19 bisa menjadi masalah psikologis pada bulan Maret 2020. Hal ini disebabkan oleh efek dominonya, yang sebagian besar mengarah kepada masalah ekonomi dan sosial.

Dalam publikasinya, WHO menyarankan untuk melakukan update berita secara minimal dan melakukan validasi dari sumber terpercaya. WHO juga memberikan saran untuk berhati-hati di dalam menggunakan kata pasien COVID-19.

Saran ini seperti menguap begitu saja karena banyak orang terus memproduksi berita-berita dari berbagai sumber dan tetap tidak melakukan filterisasi istilah pasien. Upaya tersebut disayangkan mengingat WHO merupakan rujukan masyarakat dunia terhadap pandemi ini.

Jika WHO pun gagal, lalu bagaimana seharusnya kita mengatasi problem psikologis ini?

Knapp dan Wong (2020) memberikan ide yang cukup menarik. Riset mereka memperlihatkan bahwa pemimpin-pemimpin dunia telah absen melihat kaitan antara mental health economic dengan mental health policy. Mental health economic memang berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi dengan indikator produksi, distribusi, dan konsumsi.

Sementara, mental health policy menekankan pada aspek sumber daya yang melakukan produksi, distribusi, dan konsumsi. Penelitian ini mengungkapkan kritik bahwa percuma memikirkan kesehatan ekonomi negara jika sumber dayanya tidak mampu menggerakkannya.

Ibarat dynamo, sumber daya harus disembuhkan, yaitu manusianya. Sebab, tanpa dinamo, bagaimana mesin ekonomi dapat berjalan?

Agaknya riset yang dilakukan Knapp dan Wong (2020) dapat dijadikan rujukan di dalam pandemi yang telah bermutasi menjadi problem psikologis ini. Kita harus menyembuhkan dulu penyakit tidak produktif berupa debat mengenai teori konspirasi, statement-statement yang tidak perlu, dan meme yang menyindir.

Kita sembuhkan dulu mental health policy kita karena kondisi ekonomi dan sosial itu kita tentukan dari aksi kita sendiri. Kita tentu tidak mau menjadi sekelompok orang gila yang melakukan hal-hal percuma atau tidak melakukan apa-apa padahal musuh bernama COVID-19 terus menyerang setiap harinya.

Percayalah, masalah psikologis ini dapat kita atasi dan kita dapat menyelamatkan mental health economic bagi keluarga atau bahkan bangsa dan negara, yang akan membawa kita memenangkan pertarungan melawan COVID-19 secara menyeluruh.

Referensi

Doran, C. M., & Kinchin, I. (2017). A review of the economic impact of mental illness. Australian Health Review, 43(1), 43–48. https://doi.org/10.1071/AH16115
Jayani, D. H. (2020). Wabah PHK Akibat Covid-19 – Infografik. Retrieved from https://katadata.co.id/infografik/2020/04/18/wabah-phk-akibat-covid-19
Knapp, M., & Wong, G. (2020). Economics and mental health: the current scenario. World Psychiatry, 19(1), 3–14. https://doi.org/10.1002/wps.20692
Perpres. (2020). Pengembangan Kompetensi Kerja Melalui Program Kartu Prakerja.
WHO. (2020). Mental Health and Psychosocial Considerations During COVID-19 Outbreak. World Health Organization.

Ramai Dibaca Nih
Film The Platform
Film The Platform: Konsep Solidaritas Spontan Menghadapi Pandemi