Pancasila, Pandemi, dan Jawa Tengah

Pancasila, Pandemi, dan Jawa Tengah

Kita telah masuk pada bulan Juni 2020, yang menjadi bulan keempat sejak kasus pertama ditemukan pada Maret 2020. Bulan Juni pula merupakan salah satu bulan spesial bagi bangsa dan negara Indonesia. Pada bulan ini, Pancasila yang berperan sebagai dasar falsafah negara dilahirkan.

Bulan Juni juga merupakan bulan dimana ketiga Presiden Republik Indonesia lahir, yaitu Soekarno, Soeharto, dan Jokowi. Sehingga, bulan Juni ini cukup spesial untuk merefleksikan nilai-nilai Pancasila dan kaitannya dengan persoalan penanganan pandemi COVID-19.

Refleksi mengenai Pancasila sekiranya tepat mengingat nilai-nilai Pancasila sangat dekat dengan konstruksi sosial kita sebagai bangsa Indonesia.

Jauh sebelum pandemi menjadi masalah serius, bangsa Indonesia telah diuji dengan segregasi identitas dan absennya nilai tenggang rasa. Gesekan suku, ras, dan agama menjadi masalah pelik di negeri. Tak ayal, pandemi COVID-19 semakin memperparah segregasi ini menjadi semakin parah.

Hal ini tidak lepas dari ditutupnya tempat ibadah sebagai bagian dari pencegahan menyebarnya COVID-19 di Indonesia. Langkah ini yang membuat pandemi terasa lebih kepada masalah sosial ketimbang kesehatan di Indonesia.

Masalah ini membuat kita harus kembali merefleksikan Pancasila sebagai nilai falsafah bangsa kita. Kita harus paham bahwa kelima butir Pancasila itu saling terkait satu sama lain, bukan menjadi kesatuan tersendiri. Bahkan, Soekarno dalam pidatonya di Pancasila 1 Juni menjelaskan bahwa Pancasila merupakan landasan filosofis bangsa dan negara dengan menyatukan elemen agama dan sosial.

Lihat saja, bagaimana sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa dan sila kelima Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia menjadi satu kesatuan principal di dalam bernegara. Di satu sisi Berketuhanan namun sisi lainnya harus adil secara sosial ketika mengamini Berketuhanan.

Tarik menarik antara Berketuhanan dan Berkeadilan Sosial ini yang menjadi polemik di tengah pandemi. Tentu kita ingat bagaimana bangsa Indonesia sempat diributkan dengan ditutupnya tempat-tempat ibadah, yang kemudian dipersoalkan juga kenapa tempat perbelanjaan lebih diutamakan ketimbang tempat ibadah.

Soekarno sudah memperingatkan kepada kita bahwa rakyat Indonesia memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi kepada agama ketimbang rakyat di bangsa-bangsa lainnya. Konflik ini berkepanjangan bahkan hingga saat ini ketika kita akan masuk kepada New Normal. Lalu, apakah tidak ada penerapan nilai-nilai Pancasila di tengah pandemi?

Untuk hal ini, kita bisa melihat Provinsi Jawa Tengah yang telah cukup luar biasa melakukan keseimbangan antara agama dan sosial.

Pertama, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengeluarkan konsep implementasi kebijakan bernama Jogo Tonggo yang dalam bahasa Indonesia disebut sebagai Jaga Tetangga. Konsep ini sederhana, yaitu bagaimana setiap keluarga di rumah dapat menjaga tetangga kanan-kiri, depan-belakangnya dan memastikan untuk patuh terhadap protokol kesehatan COVID-19.

Penjagaan keluarga ini meliputi aspek berbagai bidang, termasuk agama. Sehingga, ketika melakukan kegiatan keagamaan, dipastikan kegiatan tersebut tidak melanggar aspek-aspek prokotol. Kedua, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menerapkan physical distancing ketika membuka pasar di Salatiga. Penerapan physical distancing ini diberikan aturan ketat jarak minimal 1 meter bagi penjual dan pembeli.

Langkah-langkah tersebut kesannya sederhana. Namun, pemerintah mana lagi yang mampu melakukannya? Secara tidak sadar, Pemerintah Jawa Tengah mampu menengahi dua hal, yaitu penerapan protocol COVID-19 serta menjaga keutuhan bangsa dari segregasi sosial.

Penerapan-penerapan ini yang secara tidak langsung pula berkorelasi pada penerapan nilai Pancasila. Diakui atau tidak, apa yang dilakukan oleh Jawa Tengah menjadi angin segar bagi bangsa Indonesia, bahwa bangsa ini akan terus ada, bahwa Pancasila telah selesai karena mampu dipraktikkan, dan bahwa rakyat Indonesia mampu menyeimbangkan agama dan sosial.

Refleksi inilah yang dapat diambil di dalam momen spesial 1 Juni 2020 ini. Momen yang akan semakin menjadi tantangan bagi kita, karena Juni adalah bulan keempat kita bersama COVID-19 dan menjadi era adaptasi baru bernama New Normal.

Kiranya apa yang dilakukan Jawa Tengah dapat menjadi landasan role model bagi penerapan New Normal agar New Normal tidak menjadi New Number of COVID-19 di Indonesia, melainkan menjadi New Social Life bagi bangsa Indonesia dengan landasan Pancasila. Selama Hari Lahir Pancasila 1 Juni!

Satria Aji Imawan
Latest posts by Satria Aji Imawan (see all)
Ramai Dibaca Nih
Legitimasi Kebijakan di tengah Pandemi