New Normal Yang Tidak Normal

New Normal Yang Tidak Normal

Saat ini banyak sekali artikel atau diskusi yang membahas masalah New Normal. Sedikit banyak hal yang mengganggu saya terkait dengan istilah New normal ini. Apasih new Normal ini, dari beberapa literasi yang saya baca, new normal adalah suatu kondisi yang memungkinkan sebagian besar masyarakat bersedia mengikuti aturan baru untuk jangka panjang. Kalau seperti itu apakah masih dikatakan normal ya?

Kondisi new normal ini jika dipahami, berarti adanya perubahan dari kondisi normal yang sekarang menjadi sesuatu normal yang baru, berarti ada perubahan kondisi. Hal yang membuat saya bertanya-tanya adalah kenapa ya istilahnya new normal, bukan perubahan kondisi sosial? Apakah kata perubahan kondisi, merupakan kata yang dihindari dalam kondisi seperti ini?

Bagi saya, sebuah pandemi, ketika menyebar secara global pasti akan memberikan dampak sosial. Apalagi pandemi ini menuntut penyesuaian yang menyentuh aspek sosio-cultutral khususnya di Negara kolektivis seperti Indonesia. Pembatasan sosial yang dilakukan jelas mengubah kebiasaan sosial dari masyarakat Indonesia yang cenderung suka berkumpul dan berinteraksi secara langsung dengan sesamanya.

Istilah new normal ini mengingatkan saya pada sebuah film yang berjudul Vice yang rilis pada tahun 2008. Film ini bercerita tentang wakil presiden Amerika yang dianggap lebih powerfull daripada presiden pada waktu itu, sosok itu adalah Dick Cheney.

Pada kesempatan ini saya tidak akan membahas film itu secara utuh atau membahas masalah sosok Dick Cheney. Dalam film tersebut ada sebuah scene yang menarik dan relevan dengan bahasan new normal ini. Ada sebuah adegan dimana pemerintah Amerika serikat sedang menghadapi kritik terkait climate change.

 Isu climate change ini menarik perhatian dan kepedulian masyarakat Amerika pada waktu itu. Hal itu berujung pada banyaknya demonstrasi terkait isu perubahan iklim yang menyerang industri manufaktur dan perusahaan yang bergerak di ranah minyak dan gas. Lantas apa yang dilakukan Pemerintah Amerika saat itu? Mereka membuat sebuah FGD untuk mengubah istilah climate change ini, dari hasil FGD itu muncullah sebuah istilah baru yaitu Global Warming.

Munculnya istilah global warming yang menggantikan istilah climate change berhasil meredam meluasnya simpati terhadap perubahan iklim. Istilah ini mereduksi persepsi buruk atas perubahan iklim yang terjadi di dunia bagi masyarakat Amerika.

Ya, hanya dengan membuang istilah yang memiliki kata “perbuahan”  dengan istilah baru yang lebih halus ternyata efektif untuk meredam pergolakan yang terjadi di masyarakat pada waktu itu.

Apakah istilah New Normal ini juga dimunculkan untuk menghilangkan kata perubahan? Apakah kata perubahan itu sebegitu menakutkannya bagi sistem yang sudah stabil saat ini?

Normal menjadi New Normal pasti melewati sebuah fase perubahan, dan setiap ada fase perubahan pasti memberikan ketidaknyamanan bagi sebuah sistem yang selama ini stabil.

Vaxuz Hemangel
Latest posts by Vaxuz Hemangel (see all)
Ramai Dibaca Nih
Beasiswa Seni
Beasiswa K’ARTS untuk S1 dan S2 di Korea