Menjadi Pemilih Muda yang Berbeda

“Sudahlah golput saja”
“Nggak sah mikirin politik”
“Nggak peduli nggak mau milih”
“Siapa pun yang menang tetap sama saja”
“Siapa pun presidennya tetep aja cari duit sendiri”

Pernah dengar kalimat di atas? Atau justru kamu juga melontarkan kalimat tersebut dalam sebuah tongkronggan, di masa pemilu 2019 kemarin? Wajar, aku pun demikian. Sebagai pemilih pemula yang bisa dibilang masih buta perihal pesta demokrasi di Indonesia, aku sempat berpikir untuk tidak ambil pusing perihal hak pilih sebagai warga negara.

Ketika surat undangan untuk hadir di TPS guna memberikan hak pilih sampai padaku, ada dua pilihan yang aku ambil; 1. Datang dan coblos semua 2. Abaikan dan nikmati liburnya

Nita Andanisa

Akan tetapi, aku ternyata tidak mudah untuk bersikap bodo amat. Bagaimana pun pengalaman pertama memang selalu menarik, seperti pengalaman pertama jatuh cinta, pertama kali ditembak lawan jenis, pertama kali naik delman, pertama kali masuk sekolah, pertama kali ciuman dan juga pertama kali menjadi pemegang hak suara dalam pemilihan umum. Mendebarkan, menarik, dan patut dipikirkan!

Mencari kemungkinan terburuk dari yang terburuk

Banyak yang bilang bahwa dalam pemilihan umum bahwa suara kita dapat menentukan perubahan, paling tidak dapat digunakan untuk mencari kemungkinan terburuk dari yang terburuk. Sebab memang jika kita berbicara rekam jejak, aku sebagai pribadi tidak menemukan satu alasan yang bisa aku gunakan untuk 100% percaya dengan apa yang kandidat janjikan untuk Indonesia 5 tahun mendatang.

Mungkin semua orang sudah muak atas janji, sebab kita tahu ada ongkos politik yang akan ditagih setelah seorang calon terpilih. Tidak berbicara kerja dan upaya menunaikan janji kampanyenya tapi sibuk mencari modal kembali, lebih parah dari itu tentu saja memperkaya diri sendiri. Inilah kemungkinan terburuk, dan kita hanya bisa memberikan suara untuk mencegah yang paling buruk.

Di antara teman teman

Ketika jari kelingkingku berwarna tinta ungu. banyak teman-teman sebayaku yang bertanya “buat hyari diskon di mana?” atau pernyataan ‘candaan’ lain yang pada dasarnya mempertanyakan kenapa aku harus masuk bilik suara. Aku tidak bisa menjawab selain memberi senyum, sebab mereka pun benar, mereka memilih untuk tidak memilih, dan aku memilih untuk memilih.

Di antara teman teman, aku tidak ada yang berbeda kecuali di satu dua hari pertama, mengingat aku sebelumnya cukup lantang untuk menjadi acuh pada pemilihan umum, pengalaman memberikan suara mengikuti pemilihan umum untuk kali pertama, nyatanya menjadikan aku merasakan bagaimana Menjadi Pemilih Muda yang Berbeda.

Aku percaya, setiap generasi memiliki cara untuk menentukan nasibnya, menentukan cara pandangnya, termasuk dalam hal politik. Dan ke depan, generasi Milenial adalah generasi yang masih akan tetap menjadi pemegang hak suara potensial dalam pemilihan umum di Indonesia, dan aku bangga menjadi satu di antara mereka.

Kiriman: Nita Andanisa
Editor: RAP

Ramai Dibaca Nih
Sikap Ayah di Peringatan Hari Anak
Sikap Ayah di Peringatan Hari Anak