pandemi Covid-19
pandemi Covid-19 @cottonbro

Membangun Kemanusiaan di tengah Pandemi

Beberapa hari ini pemberitaan terkesan agak memprihatinkan. Bagaimana tidak, hampir setiap berita lelayu dianggap sebagai akibat dari infeksi COVID-19. Padahal jika ditelisik, tidak semua kematian seorang manusia kita temui setiap hari. Ada yang memang meninggal dunia karena sakit yang sudah lama atau memang sudah waktunya dipanggil Yang Maha Kuasa. Hal ini berimbas kepada dua hal. Pertama, adanya berita hoaks yang bersumber pada kata “infeksi COVID-19”. Hal ini hampir menimpa siapa saja yang berpulang.

Terakhir, almarhum Glenn Fredly yang menderita sakit yang sudah cukup lama dan bukan COVID-19 sempat diisukan mengidap virus tersebut. Kedua, imbas dari berita hoaks tersebut adalah penolakan pemakaman yang terjadi pada beberapa orang yang meninggal. Peristiwa ini terjadi di beberapa daerah dan menjadi keprihatinan luar biasa bagi negara dan masyarakat. Kedua hal ini membuat kita bertanya-tanya mengapa hal itu terjadi? Apakah kemanusiaan kita hilang karena COVID-19 ini?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita perlu menelisik konsep bagaimana kemanusiaan didefinisikan di ruang digital, sebuah ruangan yang mendominasi kehidupan kita saat ini. Secara umum, Sasvari (2012) mendefinisikan teknologi sebagai aspek yang mempengaruhi manusia karena membentuk implikasi kognitif, sosial, dan emosional. Senada dengan hal tersebut, Caplan dan High (2006) juga melihat teknologi telah membuat seseorang berpikir.

Yamamoto dan Ananou (2015) bahkan menyimpulkan jika teknologi mampu membentuk self-knowledge seseorang. Ketiga pendapat ini memiliki sintesis pendapat bahwa teknologi mempengaruhi aspek logika dan perasaan seseorang yang kemudian berimplikasi kepada kognitif, sosial, dan emosional lingkungan orang tersebut..

Penjelasan-penjelasan tersebut menjadi masuk akal ketika kita melihat bagaimana orang tetap memproduksi hoaks dan menolak pemakaman orang meninggal karena COVID-19. Tragedi-tragedi ini terjadi karena informasi bergerak di ruang teknologi yang mempengaruhi logika, emosional, dan aksi seseorang.

Informasi yang saat ini sulit dilihat benar-salahnya bergerak begitu cepat dan masif mempengaruhi sendi-sendi logika dan perasaan seseorang. Apalagi informasi yang beredar adalah mengenai COVID-19, sesuatu yang diklaim oleh peneliti masih dicari asal-usulnya dan sektor yang masih menjadi misteri bagi beberapa orang, terutama bagi mereka yang tidak belajar ilmu kedokteran klinis.

Artinya, informasi tentang COVID-19 yang belum jelas aralnya, begitu cepat menyebar melalui teknologi dan menjadi santapan logika dan emosional seseorang untuk membentuk self-knowledge dan berujung kepada aksi.

Hal ini menimbulkan disruption seseorang, baik melalui asimetris informasi yang terjadi maupun self-knowledge yang instant. Hanya bermodal google, orang pun menjadi ahli kedokteran klinis. Ini mengkhawatirkan karena menjadi respons atas otak kecil dan menjadi aksi. Ditinjau dari hal ini, maka tidak salah sebenarnya jika warga menolak, meskipun tidak seharusnya begitu.

Tidak mengherankan pula ketika Glenn Fredly dikabarkan meninggal karena COVID-19, padahal tidak. Hal ini karena sekali lagi, informasi mengenai COVID-19 bergerak dengan begitu banalnya sebagai industri hoaks, sehingga masyarakat yang tidak semuanya belajar ilmu kedokteran klinis tidak hanya terpengaruh logika dan emosionalnya, namun juga mempengaruhi self-knowledge dan aksinya.

Harus diakui, peristiwa-peristiwa tersebut menyedihkan. Kita tidak bisa mengutuk orang-orang tersebut karena respons logika dan perasaannya tidak siap, ditambah dengan ketakutan tentang COVID-19 sehingga membentuk self-knowledge sendiri yang sering tidak benar. Akumulasi dari hal-hal ini adalah aksi-aksi yang menimpa Glenn Fredly dan beberapa orang yang ditolak jenazahnya.

Tragedi ini juga menandakan bahwa COVID-19 telah berkembang dari penyakit medis menjadi penyakit psikologis. Dari yang tadinya informasi-informasi medis sukses bermutasi menjadi psikologis karena terjadi asimetris informasi dan self-knowledge yang tidak tepat sehingga menjadikan aksi yang tidak kongruen pula.

Menengok permasalahan-permasalahan tersebut, kita perlu menemukan momen yang tepat untuk membangun kemanusiaan kita sebagai bangsa Indonesia. Jika menilik dari karakteristik manusia Indonesia yang cukup religius, maka bulan Ramadhan menjadi momen yang tepat.

Bulan Ramadhan yang sebentar lagi datang hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai bulan suci umat Islam, namun juga bulan kebangkitan kemanusiaan bagi setiap insan manusia Indonesia.

Semoga bulan Ramadhan menjadi tonggak penting kemerdekaan bangsa Indonesia dari belenggu informasi palsu tentang COVID-19, gempuran logika-emosi tentang hal itu, dan aksi yang lebih toleran. Bangsa Indonesia memiliki semangat juang yang sangat cukup untuk itu, sebagai landasan membumihanguskan COVID-19 dari tanah air dan bumi ini.

Satria Aji Imawan
Latest posts by Satria Aji Imawan (see all)
Ramai Dibaca Nih
Program Beasiswa s1 CIMB Niaga Seluruh Indonesia
Beasiswa s1 CIMB Niaga Seluruh Indonesia