Membagi Yang Banyak Itu Mudah, Mencukupkan Yang Kurang Itu Perlu Belajar

Membagi Yang Banyak Itu Mudah, Mencukupkan Yang Kurang Itu Perlu Belajar

Sampailah kita pada era dimana kebutuhan dan keinginan tidak lagi memiliki garis batas yang jelas. Bahkan kita kadang berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang tidak kita butuh atau inginkan. Mungkin remo adhy (salah satu kontributor di suaramilenial.id)  memiliki tanggung Jawa untuk menjelaskan impulsive buying.

Saya sedikit banyak sepakat dengan anggapan bahwa konsumen itu irasional. Du Plessis.,(2007) mengatakan bahwa “emosi secara evolusioner lebih tua daripada cara intelektual, yang mengarah pada fakta bahwa emosi membuat tindakan konsumen jauh lebih kuat dan kurang dapat dikendalikan. Hal tersebut disadari betul oleh para perusahaan khususnya bidang marketing, sehingga marketing saat ini “menyasar” sisi emosi dari konsumen.

Pernahkah kalian sadari mengapa kata engagement, exposure, impression dan interaction menjadi ukuran penting dalam proses pemasaran saat ini? Ya karena keempat kata itu berkaitan dengan emosi konsumen. Sisi Afektif konsumen menjadi titik serang utama kegiatan pemasaran saat ini.

Salah satu Simbol rasional adalah penggunaan logika dalam merespons sesuatu. Ketika sebuah respons itu muncul dari hal di luar logika maka hal itu bisa dikatakan irasional. Ketika metode pemasaran menyasar sisi emosi, maka ketika yang menggerakkan keputusan membeli adalah emosi konsumen, itu merupakan tindakan hal yang irasional.

Jangankan memilah kebutuhan dan keinginan, bahkan mencari sebuah alasan mengapa saya membeli rokok merek M yang lebih mahal dari rokok Merek L saja sulit menjelaskannya dengan logis. Semestinya jika kebutuhan saya adalah rokok, saya akan memilih rokok yang harganya lebih murah karena sesuai dengan prinsip ekonomi yaitu “pengorbanan seminimal mungkin untuk kepuasan seoptimal mungkin. Saya akui tindakan konsumsi saya merupakan tindakan yang tidak rasional.

Penambahan atribut citra brand dalam sebuah produk jelas berperan besar dalam hal ini, citra brand mampu mengangkat nilai sebuah produk dan membiaskan nilai fungsinya. Citra brand coca-cola bahkan lebih mahal daripada valuasi aset coca-cola yang dimilikinya.

Hal ini disebabkan karena brand coca-cola sangat kuat dan dapat masuk ke dalam aspek sosial kita. Entah bagaimana, coca-cola saat ini bisa bersanding dengan lontong opor di meja makan saat lebaran.

Pembiasan nilai fungsi ini secara berkelanjutan membuat konsumen bias juga dalam tindakan ekonominya. Apakah kita membeli produk ini karena keinginan atau kebutuhan? Atau kita membelinya karena sebuah dorongan saja padahal kita tidak butuh atau tidak ingin produk tersebut.

Hal tersebut sebenarnya tidak menjadi masalah ketika kita memiliki sumber dana yang besar. Masalah muncul ketika sumber dana kita tidaklah mencukupi untuk mengonsumsi. Tapi mengapa kita membeli barang yang di luar jangkauan ekonomi kita? Itu kan sama saja kita tidak rasional?

Ya itulah pertanyaannya karena kita perlu belajar untuk menjadi rasional dalam melakukan konsumsi. Membagi yang banyak itu mudah, mencukupkan yang kurang itu memang perlu belajar. Jadi bagaimana Remo adhy? Apakah marketing itu representing? Atau justru memang nafasnya adalah manipulating? 

Referensi
Du Plessis, E. Jak zákazník vnímá reklamu (Advertised Mind: Groundbreaking Insights into how Our Brains Respond to Advertising). Brno: Computer Press, 2007.

Vaxuz Hemangel
Latest posts by Vaxuz Hemangel (see all)
Ramai Dibaca Nih
Joe Biden Tidak Hidden
Joe Biden Tidak Hidden