Hand in protective medical gloves holding traditional Arabic lantern with middle-eastern carving. Celebrating Holly month Ramadan 2020 in quarantine. A doctor celebrates Ramadan in hospital

Masih Mencari Cara Untuk Menang di Idul Fitri 2020

Hari Raya Idul Fitri pada tahun 2020 berada ada 2 pendulum, yaitu akan dikenang di tahun-tahun berikutnya atau justru dilupakan. Bukan apa-apa, Idul Fitri 2020 adalah Hari Raya yang dirayakan di tengah pandemi virus Corona yang sudah berlangsung selama hampir 6 bulan sejak ditemukan kasus pertama pada November 2019.

Sementara di Indonesia sendiri, pandemi sudah berlangsung selama 3 bulan sejak bulan Maret 2020. Tentu hal ini akan dikenang oleh banyak orang karena akan menjadi pengalaman pertama berlebaran di tengah pandemi.

Kenangan yang mungkin juga pahit, sedih, dan ingin dilupakan. Situasi yang membuat kita harus merefleksikan diri sebagai sikap kita sebagai manusia.

Perayaan Idul Fitri tidak hanya soal agama Islam, namun juga budaya dunia. Di berbagai belahan dunia, Hari Raya Idul Fitri dianggap sebagai budaya untuk saling berbagi, yang ruangnya bahkan menjelma di ruang-ruang populer.

Contohnya saja, banyak selebrasi gol di permainan sepak bola yang merujuk kepada ucapan selamat Idul Fitri. Begitu juga dengan video ucapan Idul Fitri dari pemimpin-pemimpin dunia yang mayoritas penduduk di negaranya tidak beragama Islam. Bagaimana Indonesia? Lebih heboh lagi dengan tradisi mudik, silaturahmi, dan beli baju baru.

Tentu ini sulit di tengah pandemi. Jangankan merayakan gol, pertandingan sepak bola saja dihentikan. Ucapan pemimpin-pemimpin dunia juga barangkali ala kadarnya karena mereka masih bergulat dengan pandemi.

Indonesia sendiri semakin menunjukkan kasus yang tinggi sepanjang pandemi terjadi di Indonesia dimana ada dua kali kasus diatas 900 orang. Hal ini tidak lepas dari mudik, silaturahmi, dan beli baju baru yang bertentangan dengan semangat jaga jarak, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan di rumah aja.

Kedua cerita ini memperlihatkan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki pikiran dan perasaan, sehingga kita diberitahu bahwa pandemi makin berbahaya karena ada gelombang dua, maka responnya akan skeptis.

Kondisi demikian lazim disebut dengan fenomena post-truth dimana manusia menciptakan justifikasi sendiri atas fenomena, data, dan peristiwa. Adanya justifikasi sendiri menyebabkan science semakin dijauhi.

Sehingga, tidak terlalu mengherankan ketika ilmuwan teriak-teriak mengenai bahaya lanjutan pandemi kepada para pemimpin negara berikut dengan jajarannya yang kemudian tidak didengarkan.

Belakangan justru fakta-fakta yang dipaparkan oleh illmuwan dianggap sebagai kepalsuan dibanding kebenaran.

Fase denial seperti pernah dialami oleh berbagai peristiwa dunia. Bencana pandemi SARS yang terjadi di medio 2002-2003 juga memunculkan fenomena post-truth baru dengan pendekatan industri dan lingkungan. Padahal yang dibutuhkan pada saat itu adalah riset dan pengembangan di bidang kesehatan.

Jadi apakah manusia sudah lama mengalami post-truth? Sepertinya begitu mengingat banyak sekali evidence yang diabaikan demi keberlangsungan budaya seperti event sepak bola, mudik, beli baju baru, dan silaturahmi.

Hal-hal yang bertentangan dengan itu seperti kebijakan PSBB, jaga jarak, dan tetap di rumah sebagai bentuk perlawanan terhadap tradisi, tidak toleran, dan tidak fleksibel. Angka-angka infeksi yang justru terjadi memuncak setelah April dianggap sebagai kepalsuan dan konspirasi.

Kompleksitas inilah yang kita hadapi hingga saat ini, momen yang seharusnya dirayakan oleh mayoritas penduduk Indonesia dengan jabat tangan, reuni, dan bepergian. Hal-hal yang harus kita tahan lagi untuk rentang waktu yang tidak bisa ditentukan.

Biasanya, para muslim di seluruh dunia melihat Ramadhan sebagai ujian keimanan seseorang dan Idul Fitri sebagai hari kemenangan. Maka di tahun 2020 ini, nampaknya kita harus melihat Ramadhan dan juga Idul Fitri sebagai fenomena pencarian cara menang ketimbang merayakan kemenangan.

Perubahan mindset ini penting karena post-truth seperti pandemi itu sendiri, menyerang sistem berpikir dan berperasaan manusia sampai pada tahap menciptakan realitas sendiri.

Perkumpulan McDonalds di Sarinah dan tagar #IndonesiaTerserah contoh nyata pertentangan antara science dan post-truth. Uniknya kejadian tersebut berlangsung selama Ramadhan, bulan suci yang seharusnya digunakan sebagai wujud tenggang rasa. Sekali lagi peristiwa tersebut jangan sampai terjadi pada saat Hari Raya Idul Fitri 2020.

Memang ini akan sulit sekali, sedih, dan tak jarang membuat orang marah. Namun kita perlu ingat bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki akal dan perasaan untuk beradaptasi.

Sehingga ketimbang fungsi membentuk realitas baru atau semu yang dilakukan atas ekspresi logika dan perasaan, maka ada baiknya kedua hal tersebut diarahkan kepada adaptasi terhadap situasi, baik mindset maupun tindakan.

Idul Fitri 2020 itu unik namun bisa jadi sebuah momentum untuk tidak merayakan kemenangan namun menemukan strategi kemenangan melawan pandemi Corona.

Satria Aji Imawan
Latest posts by Satria Aji Imawan (see all)
Ramai Dibaca Nih
Pendaftaran Beasiswa LPDP PTUD 2020
Pendaftaran Beasiswa LPDP PTUD 2020