Masa Depan Ada Di Dasar Piramid

Masa Depan Ada Di Dasar Piramid

 “The Fortune at the bottom of pyramid”, lengkapnya The Fortune at the Bottom of the Pyramid: Eradicating Poverty Through Profits. Judul buku dari C.K Prahalad yang menggerakkan saya untuk menulis artikel ini.

Bottom of pyramid dalam buku Prahalad ini merujuk pada mereka yang berpenghasilan kurang dari $2 per hari. Jika kita berbicara penghasilan per hari, maka piramid yang dimaksud Prahalad adalah piramida penghasilan.

Seperti kita ketahui bahwa piramida selalu lebih lebar bagian bawahnya, lalu mengerucut ke atas. Mereka yang di bawah lebih banyak dari pada mereka yang ada di atas. Mereka yang di bawah, banyak dan tidak sejahtera justru menyokong mereka yang sedikit dan lebih makmur.

Ya itu merupakan pernyataan yang klise, karena sepertinya sistem kapitalisme memang mengamini hal berikut. “The Fortune at the bottom of pyramid” pendapat Prahalad itu memberikan perspektif baru untuk memandang piramida ini.

Prahalad mengatakan bahwa masa depan ekonomi justru ada di dasar piramida ini. Mereka yang dikatakan “miskin” dari sisi pendapatan justru yang menggerakkan ekonomi ke depan. Pertanyaan lalu muncul, kenapa bisa mereka yang dikatakan berpendapatan rendah justru menjadi masa depan ekonomi?

Jawabannya adalah karena penghuni dasar pyramid tidak bisa melakukan konsumsi yang efektif. Contoh sederhananya mereka yang berpenghasilan pas-pasan konsumsinya biasanya harian. Mengapa? Ya jelas karena untuk melakukan konsumsi dengan kuantitas bulanan uang mereka tidak cukup.

Di situlah letak tidak efektifkan ini, karena harga akan murah jika kita membeli dalam kuantitas yang banyak tidak dalam kuantitas satuan. Contoh sederhananya, kuota internet bulanan akan lebih murah jika dibanding kuota harian.

Pola konsumsi harian ini juga dipengaruhi karena sebagian besar penghuni dasar piramid adalah mereka yang memperoleh penghasilan harian. sehingga tidak salah jika akhirnya mereka hanya berpikir bertahan hidup untuk hari ini, dan besok adalah masalah lain.

Dayung pun bersambut, entitas bisnis pun tidak melihat mereka yang di dasar piramid sebagai konsumen yang potensial. Mereka yang miskin tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang berharga. Sebegitu kerasnya dampak kata miskin ternyata, hingga benar-benar dapat membuat pandangan tidak ada potensi apa pun pada seseorang yang berlabel miskin. Luar biasa memang cedera yang dihasilkan oleh istilah “miskin”.

Prahalad memberikan pandangan yang cukup menyegarkan dan menurut saya pandangan ini menyembuhkan cedera yang ditimbulkan oleh istilah “miskin”. Mereka yang berada di dasar piramid dengan ke tidak efektifkan ekonominya justru adalah konsumen yang potensial dan paling berjasa untuk menggerakkan ekonomi. Mereka lebih berjasa dibanding konsumsi kelas menengah bahkan kelas atas.

Secara kumulatif konsumsi mereka bisa jauh lebih tinggi dibanding kelas menengah. Bahkan jika dipisah secara kelompok piramid bisa jadi konsumsi kelompok dasar piramid adalah yang paling tinggi. Kawan-kawan bisa membaca buku Prahalad yang berjudul The Fortune at the Bottom of the Pyramid: Eradicating Poverty Through Profits. Dalam buku tersebut Prahalad menyediakan data-data yang tidak saya tuliskan di sini dengan detail.

Pandangan masa depan ekonomi ada dalam penghuni dasar piramid sebaiknya disikapi dengan serius oleh para pelaku ekonomi bahkan pengamat ekonomi. Sudah semestinya mereka yang berada di dasar piramid ini dijadikan konsumen yang sesungguhnya.

Konsumen yang didengar suaranya, konsumen yang dipenuhi kebutuhannya dan konsumen yang diberikan pelayanan selayaknya konsumen. Seberapa banyak sih produk yang benar-benar dibuat untuk para penghuni dasar piramid ini baik dari sisi products, price, placement dan promotion? Sedikit, bahkan sangat sedikit.

Tulisan dari Prahalad ini semestinya memberikan kita pandangan baru untuk mereka yang ada di dasar piramid. Dasar piramid memiliki potensi yang luar biasa untuk menggerakkan ekonomi. Meskipun untuk meratakan surplus ekonomi yang terjadi ketika potensi ini bisa di optimalkan merupakan masalah lain.

Mungkin saudara Vaxuz dapat menjawab permasalahan itu. Dasar piramid yang menyangga keutuhan piramid adalah sesuatu yang harus diperkuat, bukan alas yang untuk di injak-injak guna mencapai puncak piramid.

Remo Adhy Pradana
Latest posts by Remo Adhy Pradana (see all)
More Stories
Corona
Bicara Pandemi, pemerintah mau ke kanan atau ke kiri?