Marketing Itu Representing Bukan Manipulating

Marketing Itu Representing Bukan Manipulating

Pertemuan saya dengan salah seorang kawan tempo hari cukup menarik. “marketing itu adalah ilmu yang outputnya mempersuasi orang untuk membeli barang yang mungkin sebetulnya  tidak butuh konsumen”. Ya itu statement yang dilontarkan seorang kawan sehingga pembicaraan kami pun menjadi menarik.

Saya pun dulu berpikiran bahwa marketing itu membuat konsumen melakukan keputusan membeli berdasarkan keinginan bukan kebutuhannya. Setelah saya mempelajari ilmu marketing lebih mendalam pandangan saya akan marketing pun berubah.

Saat ini saya memahami bahwa ilmu marketing adalah ilmu yang sebenarnya memiliki keberpihakan pada konsumen. Ibaratnya perwakilan konsumen di perusahaan adalah marketing.

Mengapa? Karena dari ilmu-ilmu manajemen bisnis, ilmu marketing adalah ilmu yang dituntut untuk memahami konsumennya. Pemahaman terhadap konsumen tidak sekedar dari perilakunya namun aspek-aspek yang lebih mendalam seperti apa kebutuhan konsumen, Seberapa kuat daya beli konsumen, memahami ekspektasi konsumen terhadap sebuah produk dan sebagainya.

Tidak hanya memahami saja, marketing juga memiliki tugas untuk berkomunikasi dengan konsumen. Komunikasi ini bertujuan agar konsumen meyakini bahwa sebuah produk barang atau jasa yang ditawarkan itu mampu menyelesaikan masalah atau memenuhi kebutuhannya.

Perubahan kondisi sosial yang sangat dinamis menjadi tantangan bagi ilmu marketing atau bahkan seorang marketer itu sendiri. Kepekaan seorang marketer atau bahkan divisi marketing di sebuah perusahaan akan menentukan keberhasilan sebuah produk laku atau tidaknya di pasar.

Kepekaan itulah yang menuntut seorang marketer atau divisi marketing berpihak pada konsumen karena jika kepekaan tersebut tidak merepresentasikan keberpihakan tersebut maka produk atau jasa tersebut kemungkinan tidak laku di pasar sangat besar.

Lantas bagaimana dengan fenomena individu yang membeli sebuah produk di luar daya belinya atau membeli barang yang sebenarnya dia tidak butuh? Apakah itu adalah salah marketing?. Saat ini saya menjawab tidak sepenuhnya, itu bukan sepenuhnya kesalahan marketing. Mengapa? Karena sebelum produk dilepas ke pasar, marketing pasti sudah melakukan segmentation, targeting dan positioning terhadap produk tersebut.

Maka jika ada konsumen membeli produk mobil sebagai contoh namun dia kesulitan saat melakukan perawatan, membayar cicilan atau sebagainya, berarti konsumen itu membeli barang yang sebenarnya bukan untuk dirinya. Konsumen tersebut membeli barang yang tidak untuk segmen dia. Apakah kita tidak boleh membeli barang yang memang bukan diciptakan untuk segmen kita? Jawabannya ya tidak  namun harus siap dengan konsekuensinya tadi.

Berkembangnya ilmu marketing seharusnya dimaknai sebagai keuntungan bagi konsumen. Hal ini disebabkan akan banyak barang pemenuhan kebutuhan bagi tiap segmen di pasar.

Untuk mengoptimalkan hal tersebut konsumen harus menggunakan dasar kebutuhan atau nilai fungsi dari sebuah produk yang akan di beli dan tidak melupakan prinsip utama dalam ekonomi yaitu : “pengorbanan seminimal mungkin untuk kepuasan yang optimal”.

Melalui dasar nilai fungsi dan prinsip ekonomi tersebut maka konsumen akan menghasilkan sebuah keputusan ekonomi yang optimal. Kedua hal tersebut dinilai sebagai kunci efektivitas dan efisiensi dalam berbelanja.   

Ramai Dibaca Nih
30 Quotes Galau Sedih Penuh Makna Menyentuh Hati
30 Quotes Galau Sedih Penuh Makna Menyentuh Hati