Film The Platform

Film The Platform: Konsep Solidaritas Spontan Menghadapi Pandemi

Ada konsep menarik di dalam film The Platform, yaitu Solidaritas Spontan (SS). Dalam film tersebut SS digambarkan melalui dua metode komunikasi, yakni persuasif dan konfrontatif (CNN Indonesia, 2020). Persuasif diperlihatkan oleh Imougiri dengan cara himbauan agar orang yang dipenjara di bawahnya melakukan pengaturan jatah makanan sementara, konfrontatif dipraktikkan oleh Goreng dengan perintah (Gasella, 2020). Dua cara ini memperoleh respons yang berbeda.

Imougiri memperoleh penolakan setelah berulang-ulang kali, di sisi lain Goreng cukup sekali saja. Dalam potret tersebut, penerapan SS Goreng terlihat lebih efektif ketimbang Imougiri. Sebuah gambaran sederhana untuk kemudian menanyakan tentang apakah sebenarnya SS itu? Konsep ini cukup menarik ditelisik karena berkaitan juga dengan penyelesaian pandemi COVID-19 yang sedang melanda kita dan berbagai belahan dunia. Kita bahas satu persatu.

SS tidak memiliki penjelasan konseptual yang jelas. Untuk menerangkannya, kita perlu menelaahnya satu persatu melalui balutan tesis dan sintesis. Solidaritas secara singkat, dijelaskan oleh Arnsperger dan Varoufakis (2003) sebagai serangkaian interaksi manusia dalam membangun konsensus. Moulaert dan Ailenei (2005) menambahkan bahwa pembangunan konsensus tersebut ditentukan oleh kondisi sosial ekonomi.

Sedangkan, spontanitas dijelaskan oleh Bruya (2010) dan Land (2006) sebagai suatu aksi yang harus didasarkan nilai-nilai yang terukur keberhasilannya karena merupakan bagian dari gerakan yang berdasarkan asas kesengajaan.

Dapat disimpulkan bahwa solidaritas merupakan interaksi membangun konsensus atas kondisi sosial ekonomi, sedangkan spontanitas menggambarkan urgensi nilai yang terukur atas konsensus tersebut.

Dalam film The Platform, hal ini digambarkan melalui bagaimana Imougiri dan Goreng sepakat untuk berkomunikasi dengan orang di bawah levelnya melalui pendekatan persuasif atau konfrontatif. Sementara, dalam aspek nilai konsensus, Imougiri dan Goreng berada pada satu nilai kebebasan atas kondisi sosial ekonomi penjara. Kondisi ini mirip dengan penanganan COVID-19 di Indonesia.

Jika kita telisik bersama, konsensus komunikasi sudah dilakukan oleh pemerintah melalui himbauan-himbauan. Berbagai himbauan ini pun dilakukan secara persuasif di berbagai kondisi, baik kondisi normal atau ketika masyarakat ramai-ramai melakukan aksi lockdown kampung.

Belakangan, konsensus aksi tersebut berubah menjadi lebih konfrontatif melalui terbitnya Permenkes Nomor 9 (2020) tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Nilainya pun bergeser dari yang tadinya akomodatif menjadi sedikit otoritatif. Adanya perubahan perubahan pola konsensus komunikasi dan nilainya ini menjadi menarik tatkala kita melihat faktor yang membelakanginya. Pertanyaan yang muncul adalah mengapa hal itu terjadi?

Kita dapat melihatnya melalui dua hal. Pertama, pola konsensus komunikasi berubah karena adanya pemahaman berbeda terhadap data. Data-data tentang penanganan COVID-19 dilihat pemerintah sebagai sebuah statistik statis. Statistik COVID-19 diibaratkan dengan jumlah bola basket yang dimasukkan tim di dalam pertandingan.

Jika ada 2 poin yang hilang maka hal itu dibenarkan karena ada 3 poin yang bisa didapatkan. Di dalam konteks COVID-19, jika kita kehilangan 2 orang maka itu tidak jadi soal karena ada 3 yang selamat sehingga masih ada 1 selisih unggul selamat. Sehingga, tidak heran pemerintah masih memilih pendekatan persuasif dengan himbauan.

Pendekatan ini bertabrakan dengan konsensus komunikasi masyarakat yang melihat COVID-19 lebih dari sekedar angka-angka. Maka, jangan heran jika masyarakat masih melakukan hal yang berlawanan seperti tetap keluar rumah, misalnya. Hal ini merupakan indikasi kuat adanya perbedaan konsensus komunikasi di dalam penanganan COVID-19. Sesuatu yang membawa pemerintah mengubah pola komunikasinya menjadi konfrontatif melalui aturan PSBB.

Kedua, perbedaan konsensus komunikasi tersebut diperparah dengan adanya standar nilai yang berbeda. Jika pemerintah setiap hari menginformasikan jumlah korban COVID-19, maka informasi tersebut dinilai skeptis oleh masyarakat dengan dalih bahwa pemerintah tidak mengakomodasi adanya transparansi data.

Sementara, jika masyarakat membuat informasi maka pemerintah kerap menilainya sebagai hoax. Perbedaan dalam menilai konsensus komunikasi melalui informasi ini menjadi sumber terjadinya problem trust di antara pemerintah dan masyarakat.

Problem yang sebenarnya saling bertautan dengan perbedaan konsensus komunikasi atas statistik COVID-19 dan informasi yang melatarbelakanginya sehingga berakibat pada tidak sinerginya cara pandang antara pemerintah dan masyarakat.

Kedua hal ini patut dijadikan renungan bagi bangsa ini, kaitannya dengan relasi pemerintah-masyarakat di dalam menangani COVID-19. Pemerintah dan masyarakat perlu melihat solidaritas spontan sebagai sesuatu yang harus dibangun segera dengan elemen apa konsensus komunikasi yang ingin dibangun berikut dengan nilai-nilainya sehingga menghasilkan tahapan gerak bersama.

Barangkali keduanya perlu melihat aksi Imougiri dan Goreng di film The Platform yang memperlihatkan nilai yang sama meskipun memiliki perbedaan konsensus komunikasi.

Dalam konteks penanganan COVID-19, tidak masalah bagaimana konsensus komunikasi yang dilakukan, apakah PSBB atau lockdown. Yang jelas, nilai yang mengikat kedua cara itu adalah informasi yang jelas dan sinergis sebagai dasar nilai dan konsensus komunikasinya. Sehingga, penanganan COVID-19 ini benar-benar tuntas.

The Platform layak dijadikan rujukan utamanya di dalam membangun konsensus komunikasi dan nilainya. Rujukan yang tidak hanya akan membuat pemerintah tetap kredibel namun juga masyarakat tetap solid di dalam penanganan COVID-19 ini.

Referensi
Arnsperger, C., & Varoufakis, Y. (2003). Toward a Theory of Solidarity. Erkenntnis, 59(2), 157–188. https://doi.org/10.1023/A:1024630228818
Bruya, B. J. (2010). The Rehabilitation of Spontaneity: A New Approach in Philosophy of Action. Philosophy East and West, 60(2), 207–250.
CNN Indonesia. (2020). Sinopsis The Platform, Kesenjangan Kelas dalam. Https://Www.Cnnindonesia.Com/Hiburan/20200323171625-220-486160/Sinopsis-the-Platform-Kesenjangan-Kelas-Dalam-Penjara.
Gasella, S. (2020). Film Netflix ’ The Platform ’: Sinisme Terhadap Kemanusiaan yang Mengenaskan. Https://Kumparan.Com/Shandy-Gasella/Film-Netflix-the-Platform-Sinisme-Terhadap-Kemanusiaan-Yang-Mengenaskan-1t5u6seL4EQ.
Komter, A. (2005). Social Solidarity and the gift. New York: Cambridge University Press.
Krastev, I. (2016). The Crisis: Solidarity, Elites, Memory, Europe. (M. Krol, Ed.), Solidarity and the Crisis of Trust. Gdansk: European Solidarity Centre.
Land, T. (2006). Kant’s Spontaneity Thesis. Philosophical Topics, 34(1), 189–220. https://doi.org/10.5840/philtopics2006341/28
Moulaert, F., & Ailenei, O. (2005). Social economy, third sector and solidarity relations: A conceptual synthesis from history to present. Urban Studies, 42(11), 2037–2053. https://doi.org/10.1080/00420980500279794
Permenkes Nomor 9. (2020). Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Retrieved from https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/specific-groups/high-risk-complications/older-adults.html

Ramai Dibaca Nih
Cara Mengatur Keuangan Gaji 3 Juta
Cara Mengatur Keuangan Gaji 3 Juta