ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A

Betapa Tidak Mudah Menjadi Milenial Dalam Pusaran Politik Istana

Sepucuk surat dari staf khusus milenial presiden membuat gempar pemberitaan akhir-akhir ini. Sepucuk surat ini menimbulkan pro kontra di masyarakat meski lebih banyak kontranya sih. Dari pada terjebak dalam pusara masalah tersebut lebih kita bahas sisi lainnya.

Ternyata tidak mudah ya jadi representasi milenial di Istana, seolah-olah semua perhatian tertuju pada mereka. Menjadi sorotan menuntut kesempurnaan dalam bersikap karena kesalahan sedikit saja bisa menjadi beban yang bukan hanya untuk dirinya namun juga jadi beban terhadap istana. Hal ini jelas terjadi karena baru pada era ini label “milenial” masuk ke dalam jajaran sistem pemerintahan.

Mengawinkan generasi milenial dengan segala pola pikir, perilaku, nilai-nilai dan atribut-atribut milenial ke dalam kultur organisasi di lembaga pemerintahan bukanlah hal yang mudah. Hal ini tidak hanya menjadi tantangan bagi pemerintahan namun juga sudah menjadi tantangan entitas bisnis. Akselerasi pengawinan ini akan tercapai ketika ada upaya dari sisi organisasi dan para generasi milenial ini.

Dalam human resources management dikenal istilah “organizational fit”. Organizational fit memiliki makna kesesuaian antara seseorang dengan nilai-nilai atau kultur yang dimiliki oleh sebuah organisasi.  Jika kita membicarakan ini dalam konteks perusahaan swasta, hal ini akan mudah dijaga oleh perusahaan melalui sistem recruitment yang memotret kesesuaian seseorang kandidat dengan kultur organisasi.

Setelah seorang kandidat lolos rekrutmen, perusahaan juga melakukan pengenalan dan penanaman kultur-kultur tersebut kepada mereka. Hal ini dilakukan supaya para kandidat tersebut bisa benar-benar fit dengan budaya organisasi tersebut.

Lantas bagaimana dengan para staf khusus ini? Menurut saya para staf khusus ini jika diibaratkan dengan proses rekrutmen dalam perusahaan, akan mirip dengan “pro hire”. Pro hire merupakan istilah yang digunakan ketika sebuah perusahaan melakukan rekrutmen pada posisi tertentu dan membutuhkan seseorang yang sudah siap kerja dan mengetahui betul tentang posisi yang akan mereka isi itu.

Para pro hire ini jelas tidak akan mendapatkan pelatihan atau pengenalan yang serigit dengan kandidat dari program rekrutmen biasa.

Kesiapan kerja tidak hanya meliputi sisi kognitif saja namun kecepatan seseorang untuk memahami dan menyesuaikan diri dengan kultur organisasi. Maka jika kita samakan dengan pro hire, maka para staf khusus ini semestinya tidak hanya menyiapkan sisi kognitif mereka dalam menyelesaikan tugasnya.

Para staf khusus ini juga harus dengan cepat memahami arsitektur sistem pemerintahan, kultur organisasi pemerintahan, dan nilai-nilai yang ada dalam lembaga pemerintahan.

Hal-hal tersebut menjadi tantangan bagi para staf khusus milenial yang ada di Istana saat ini. Apakah itu sulit? Ya memang hal tersebut sulit, tidak ada yang mengatakan hal itu mudah. Tidak pernah mudah untuk menjadi representatif, apa lagi representatif dari generasi yang sedang dominan di eranya.

Ramai Dibaca Nih
Beasiswa LPDP 2020
Ayo Daftar Beasiswa Pendidik LPDP 2020