Bersepeda Itu Mengowes Perubahan

Bersepeda Itu Mengowes Perubahan

Akhir-akhir ini tren bersepeda menjadi bom. Di kota saya Jogja hampir semua toko sepeda dipadati oleh mereka yang ingin ikut meramaikan tren gowes ini. Menariknya ternyata harga sepeda itu sangat beragam ada yang di bawah satu juta rupiah sampai harga puluhan hingga ratusan juta. Maka wajar saja jika akhirnya sepeda menjadi gaya hidup belakangan ini.

Di media sosial respons terhadap bomingnya tren bersepeda pun ramai. Ada yang mendukung dan banyak juga yang nyiyir atas tren bersepeda ini. Dari banyaknya respons dan meme terkait hal itu ada satu hal yang menarik perhatian saya.

Postingan itu membuat saya tergelitik karena memang ada benarnya. Mengapa? Karena bersepeda memutus beberapa rangkaian ekonomi yang biasa melekat pada kegiatan konsumsi kita. Sebuah produk biasanya memiliki barang komplementer. Komplementer adalah sebuah barang yang melengkapi sebuah barang lain sebagai konsekuensi dari konsumsinya. Misalkan tinta printer merupakan barang komplementer dari printer, bensin adalah barang komplementer dari kendaran bermotor dan sebagainya. Selain untuk melengkapi barang komplementer diperlukan agar sebuah barang dapat bekerja dengan optimal.

Hubungan komplementer inilah yang di dobrak oleh sepeda, setidaknya dari bahasan gambar yang saya tautkan sebelumnya di atas. Mereka yang bersepeda tidak membeli bensin, karena mereka tidak perlu bensin untuk berpindah tempat.

Mereka yang menggunakan sepeda tidak memerlukan biaya servis sebesar kendaraan bermotor yang tiap 3 bulan perlu mengganti oli dan servis. Bahkan mereka yang bersepeda tidak perlu membayar parkir, bayangkan bahkan pengeluaran sekecil parkir pun tidak diperlukan.

Memang hobi bersepeda tetap memiliki beberapa barang komplementer seperti gear set, roda, sepatu, baju dan hal-hal lain. Namun berbeda dengan kendaraan bermotor karena komplementernya adalah produk-produk yang merupakan  salah satu sektor ekonomi yang berdampak langsung pada perekonomian sebuah bangsa seperti Migas dan energi.

Selain itu, pada gambar yang sama, menuliskan bahwa orang yang bersepeda cenderung menjadi orang yang sehat dan orang yang sehat tidak perlu membeli obat. Seperti kita ketahui industri farmasi termasuk industri besar di dunia ini karena kebutuhan dan “ketergantungan orang akan obat itu sangat tinggi.

Melalui pembahasan yang receh dan sedikit tuk-tuk gatuk (kalau kata orang Jawa). Sebenarnya tren bersepeda ini memiliki potensi untuk melakukan yang disebut distraction economic bahkan bisa juga membuat revolusi pada perekonomian yang berdampak besar pada industri secara luas. Mengapa? Karena bersepeda memutus rangkaian hubungan komplementer antar produk yang selama ini telah terjaga dan terkondisi sedemikian rupa.

Bayangkan saja jika dalam sekejap separuh penduduk Indonesia yang memiliki kendaraan bermotor memutuskan untuk beralih menggunakan sepeda. Pom bensin sepi, servisan motor sepi, produk oli kendaraan kehilangan konsumen dan leasing kendaraan bermotor akan berbondong-bondong pivot ke leasing sepeda gaes.

Hal yang dapat ditangkap dari ilustrasi ini adalah, sebuah perubahan yang sederhana namun dilakukan secara masif dan tiba-tiba berpotensi memunculkan perubahan, khususnya di bidang ekonomi dan industri. Stabilitas adalah hal yang paling disukai oleh Ekonomi dan industri.

Terciptanya stabilitas memudahkan ekonomi dan industri untuk terus berkembang dan menjalankan rencananya sesuai strategi yang sudah mereka siapkan. Hal itu yang membuat perubahan – perubahan yang secara tiba-tiba dan masif dapat “menyakitkan” sektor ini.

Jadi untuk kawan-kawan yang bersepeda teruslah gowes, karena menyehatkan, menyenangkan dan ternyata memiliki potensi memberikan perubahan sistem atas dampak-dampak yang diberikan akibat bersepeda. Setidaknya mereka yang bersepeda masih membeli sepeda yang dapat menggerakkan sektor ekonomi, karena lebih berbahaya mereka yang hobi lari dan jalan karena mereka bahkan tidak membeli sepeda bung!  

Remo Adhy Pradana
Latest posts by Remo Adhy Pradana (see all)
More Stories
Beasiswa s1 Institut Teknologi Harapan Bangsa