Bahasa Daerah Yang Hampir Punah

Bahas Bahasa Daerah Yang Hampir Punah

Belum lama ini kita dikagetkan dengan berita 11 bahasa daerah di Indonesia itu punah. Bahkan 25 bahasa daerah lain terancam menyusul kepunahannya. Pada dasarnya tema ini sudah sempat saya singgung terkait pembahasan Bahasa Daerah Terancam Punah di Youtube. Namun, antusiasme kepunahan bahasa daerah tidak seheboh prank sampah dari seorang youtuber yang ngebet terkenal.

Kembali lagi pada tema kita kali ini. Bahasa daerah terancam punah! Kok bisa?

Jadi, mungkin dari sebagian teman-teman ingin mengetahui bagaimana sih suatu bahasa bisa punah atau mungkin beranak pinak. Suatu bahasa itu layaknya entitas kehidupan yang bisa tumbuh, berkembang, bahkan gugur. Oleh karena itu, tidak perlu kaget jika suatu bahasa itu punah atau berkembang biak.

Sebelumnya, mungkin saya akan mengajak kalian untuk memahami maksud bahasa yang berkembang biak itu seperti apa. Memang, dalam ranah ilmu kebahasaan suatu bahasa itu tidak berkembang biak, tetapi bermigrasi atau bertambah penutur. Hanya saja, saya ingin menggunakan istilah berkembang biak karena bahasa memang dapat memunculkan suatu bahasa baru.

Contoh sederhana yang mungkin bisa kita cermati saat ini adalah kosakata jamet atau Jawa Metal. Istilah ini muncul belakangan ini seiring dengan perkembangan sosial media saat ini. Jawa Metal ini muncul di kalangan anak muda untuk menyebut seorang pemuda yang memiliki perilaku berbeda dengan pemuda pada umumnya. Istilah jamet sendiri pun mungkin dulu sudah ada tetapi dengan bentuk lainnya, yaitu gondes atau gondrong ndeso.

Kemunculan istilah-istilah seperti inilah yang saya sebut sebagai perkembangbiakan bahasa. Suatu bahasa berkembang biak melalui kemunculan kosakata-kosakata baru yang mewakili sesuatu. Dengan kata lain, proses perkembangan bahasa ini tidak melulu bersumber dari serapan bahasa asing, melainkan juga mampu berdiri sendiri tanpa harus menyerap bahasa asing.

Keterancaman Bahasa Daerah di Indonesia

Setelah kita tadi membahas tentang perkembangan bahasa, kita tidak boleh luput terhadap kepunahan atau keterancaman suatu bahasa. Boleh jadi suatu bahasa itu berkembang, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa ada bahasa yang sedang sekarang saat ini.

Saya katakan wajar jika banyak bahasa daerah saat ini merasa sekarang dan kurang berkembang biak. Sejak dideklarasikannya Sumpah Pemuda, bangsa ini menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Dengan kata lain, jika suatu penutur bahasa daerah tersebut tidak menggunakan bahasa Indonesia, mungkin penutur itu kurang memiliki jiwa patriotisme dan nasionalisme.

kami, putra-putri Indonesia berbahasa satu bahasa Indonesia

Begitulah sekiranya bunyi sumpah pemuda pada poin ketiga. Di tambah lagi, Badan Bahasa Nasional selalu mengagungkan slogannya Utamakan Bahasa Indonsia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing.

Oke. Bahasa daerah cukup kita lestarikan.

Faktanya, upaya melestarikan bahasa daerah ini kalah dengan pengutamaan bahasa Indonesia dan penguasaan bahasa Asing. Hal ini dinilai karena bahasa Indonesia digunakan dalam bahasa komunikasi dalam pendidikan, pemerintahan, dan berbagai kegiatan formal yang melibatkan banyak orang dan komunitas. Di sisi lain, upaya penguasaan bahasa asing sangat ditonjolkan karena kebutuhan masyarakat saat ini adalah kemampuan bahasa asing untuk mendapatkan berbagai akses serta peluang secara nasional maupun internasional.

Dengan kata lain, bahasa daerah cukup dilestarikan saja. Fenomena seperti ini yang menjadikan saya tidak kaget jika beberapa saat lagi akan ada 25 bahasa daerah punah. Bahkan, saya punya sedikit optimisme terhadap kerentanan bahasa Jawa krama untuk bisa eksis dalam 50 tahun ke depan. Banyak pemuda saat ini tidak bisa menggunakan bahasa Jawa Krama untuk berkomunikasi sehingga bisa dikatakan para pemuda ini tidak akan pernah mengajarkan bahasa Jawa Krama kepada anak-anaknya nanti.

Faktor Sederhana Mengukur Usia Bahasa

Kehebatan atau kelemahan suatu bahasa itu bisa diukur secara jelas dan nyata. Kehebatan bahasa akan menghasilkan kekuatan dan keluasan suatu bahasa dituturkan oleh kelompok tuturnya, sedangkan kelemahan bahasa akan mereduksi jumlah penutur suatu bahasa hingga bahasa tersebut berstatus punah.

Ukuran yang paling bisa dilihat dalam melihat produktivitas suatu bahasa itu dari anak-anak yang menuturkannya. Apabila banyak anak-anak yang menggunakan bahasa tersebut untuk berkomunikasi, belajar, dan bermain maka bahasa itu masih akan langgeng. Namun, apabila banyak anak-anak yang memilih menggunakan bahasa lain dalam berkomunikasi daripada bahasa daerahnya, bisa dikatakan bahwa bahasa daerah tersebut tidak akan lama lagi eksis di dunia.

Logika sederhananya, kamu orang Jawa yang berusia 30 tahun dan memiliki satu anak. Kamu tahu bahasa Jawa tapi tidak tahu cara menggunakan bahasa Jawa. Dengan begitu, kamu tidak akan pernah mengajarkan bahasa Jawa ke anakmu. Bahkan, tidak ada lagi komunitas tutur bahasa Jawa di rumahmu karena kamu tidak mengetahui cara menggunakan bahasa Jawa meskipun kamu mampu untuk memahaminya sebagai pendengarr.

Apabila kamu tidak bisa menggunakannya, maka kamu tidak akan pernah mengajarkan bahasa Jawa ke anak-anakmu sehingga anak-anakmu tidak akan menjadikan bahasa Jawanya sebagai bahasa ibu mereka. Dengan kata lain, penggunaan bahasa Jawa di situ akan mengalami penurunan jumlah penutur. Bahkan sampai pada kepunahan.

Ramai Dibaca Nih
Tips Cerdas Mengelola Keuangan Milenial
Tips Cerdas Mengelola Keuangan Milenial