Ilustrasi Data Covid-19

Angka, Data dan Makna

“Jangan maknai angka ini sebagai statistik…” sebuah kalimat dari Gubernur DKI Jakarta saat jumpa pers terkait perkembangan wabah Covid-19 pada 30/03/2020 yang lalu. Sebagai catatan tulisan ini tidak akan membahas masalah Covid-19 ataupun metode komunikasi para pimpinan daerah ataupun pejabat terkait wabah itu. “Jangan maknai angka ini sebagai statistik…” hal itulah yang akan dibahas pada tulisan ini.

Pemaknaan angka yang ada pada sebuah data secara statistik membuat angka itu seperti tidak memiliki cerita ataupun arti. Sebagai contoh “sebanyak 283 orang meninggal”, ketika angka itu dimaknai sebagai angka statistik ia hanya akan memiliki arti 283 orang meninggal, sudah itu saja.

Padahal angka 283 orang meninggal semestinya bisa dimaknai lebih dalam karena angka itu memiliki arti lebih. 283 orang meninggal memiliki arti bahwa ada 283 keluarga yang kehilangan anggotanya. 283 orang harus meninggalkan orang-orang yang dikasihi, dan ada lebih banyak orang yang merasakan kehilangan atas meninggalnya 283 orang tersebut.

Jangan berhenti pada angka, namun pemaknaan terhadap angka tersebutlah yang membuat sebuah informasi akan memberikan hal lebih kepada pembacanya. Pencarian makna pada sebuah angka akan memunculkan sikap kritis terhadap sebuah informasi.

Sikap kritis yang muncul ini dirasa akan memunculkan sikap atau sudut pandang baru ketika mendapatkan sebuah informasi. Hal itu akan menjadi modal yang baik untuk memaparkan ide-ide baru terhadap sebuah angka.

Dalam ilmu statistik dikenal juga istilah standard eror. Standard eror merupakan toleransi kesalahan hitung dalam sebuah perhitungan statistik. Bagi kawan-kawan yang sedang mengerjakan skripsi menggunakan metode kuantitatif akan lebih mengenalnya dengan alpha, untuk ilmu sosial biasanya alpha diangka 5%. Jadi selama masuk ke dalam standard itu perhitungan statistiknya dianggap tidak ada masalah atau normal meskipun ada 5% yang tidak normal.

Sebagai contoh, misal ada hipotesis semua orang akan mati, penelitian menggunakan 100 responden. Dalam penelitian ini sebanyak 99 orang mati namun ada 1 orang yang ternyata tidak mati. Dalam ranah statistik maka kesimpulannya seluruh orang akan mati.

Lantas bagaimana dengan 1 orang yang ternyata abadi ini? Ya 1 orang tersebut masuk ke dalam sample eror dan tidak dianggap dalam pengambilan keputusan.

Menilik dari penjelasan di atas, terlihat bahwa angka-angka ini merupakan hal yang profan, angka-angka ini dapat digunakan untuk menguatkan sebuah argumen yang berupaya menggugurkan argumen lain.

Jika kembali ke contoh sebelumnya maka argumen yang dipatahkan adalah ada orang yang hidup abadi. Padahal ada sebuah informasi yang menarik dan penting namun harus terpaksa dibuang guna menguatkan sebuah argumentasi dan itu sah karena memenuhi persyaratan statistik.

Pemahaman arti angka yang lebih dari sekedar statistik ini dirasa menjadi modal penting bagi generasi milenial dalam mencerna informasi. Hal ini dinilai penting karena saat ini arus informasi begitu deras dan sulit untuk menentukan mana informasi yang valid dan tidak.

Para memberi informasi sekarang semakin pintar untuk meyakinkan para pembacanya supaya sepakat atau mendukung sebuah narasi yang disebarkan guna kepentingan tertentu, salah satunya menggunakan angka-angka untuk meyakinkan pembacanya.

Penggunaan angka sebagai alat penguat argumentasi sebenarnya bukan hal baru. Mark Twain pernah mengungkapkannya dalam sebuah quotes yang terkenal yaitu “Lies, damned lies and statistics. Siapa yang kuat bertahan jika disuguhkan sebuah angka statistik dan orang tersebut benar-benar memaknai angka tersebut tanpa sebuah kritik terhadap angka-angka yang tersaji.

Angka-angka merupakan alat yang efektif dan efisien untuk menjelaskan sebuah fenomena, disisi yang bersamaan angka-angka juga merupakan alat yang kuat untuk memanipulasi sebuah informasi. Kemampuan seseorang memahami makna angka-angka ini yang menjadikan “antibodi” seseorang akan penyerapan sebuah informasi.

Semakin seseorang kritis terhadap sebuah angka semakin sulit ia untuk dibodohi dan semakin optimal keputusan yang diambil orang tersebut terhadap sebuah informasi yang ia dapatkan.

Sebuah angka itu memiliki makna statis atau tidak tergantung kepekaan kita dalam memberikan makna pada angka itu. 1 pun belum tentu tunggal dan 2 belum tentu jamak, semua tergantung pemaknaan dan pemahaman kita pada konteks informasi yang ada pada angka 1 dan 2 tersebut.

Ramai Dibaca Nih
Menyasar Suara Milenial Pencitraan Saja Tidak Cukup
Menyasar Suara Milenial Pencitraan Saja Tidak Cukup